Islam Laksana Sebatang Pohon (II)
December 4, 2007 by easternearth
Mari kita membuat kajian tentang pohon yang sempurna dan rindang untuk membantu kita memahami ajaran Islam yang utuh secara ringkas. Pohon apapun kalau akarnya benar-benar menghujam bumi maka pohon itu menjadi gagah, kuat, teguh. Ketika datang angin kencang, pohon itu tidak akan jatuh, tidak akan tumbang. Kalaupun ada yang jatuh, hanya daun-daun kering dan ranting-ranting tua. Begitulah satu isyarat Allah kepada kita bahwa orang yang benar-benar beriman dan berjiwa tauhid dapat merasakan iman dan Islam sampai ke peringkat hati. Mungkin kita sering mendengar ceramah-ceramah atau melalui berita di surat kabar, seruan untuk menegakkan pemikiran yang Islami. Tapi sebenarnya itu saja tidak cukup. Di peringkat awal mungkin pemikiran Islam dapat ditumbuhkan melalui bacaan dan pelajaran tapi pada peringkat selanjutnya seseorang itu harus dididik sehingga dapat berjiwa Islam.
Seorang yang berjiwa Islam tak perlu terlalu banyak ilmunya. Walaupun sederhana ilmunya tapi sampai peringkat berjiwa Islam, imannya kuat, teguh, samapi dapat merasakan takut dengan Allah, gentar dengan Allah, cinta dengan Allah. Yang merasakan adalah hati, bukan akal. Jadi orang yang benar-benar berjiwa Islam, tauhidnya benar-benar tertanam di dalam hati. Orang yang imannya begitu teguh, jika diuji dengan berbagai-bagai ujian, baik diuji dengan nikmat maupun diuji dengan siksaan, imannya tidak akan tumbang, Islamnya tidak akan jatuh, akhlaknya tidak akan runtuh. Walaupun dunia diserahkan kepadanya, diberi pangkat yang tinggi, mobil yang mewah, rumah yang besar, tetap imannya tidak akan tumbang. Bahkan semakin bersyukur dan semakin halus akhlaknya. Sebaliknya, jika diuji dengan penderitaan, walaupun miskin harta sekalipun, tetapi makin kuat imannya, amalan Islamnya tidak akan ditinggalkan, budi pekertinya bertambah halus, akhlaknya bertambah kuat. Tetapi jika iman belum tertanam di dalam hati, baru sekedar berpikiran Islam, jika diuji dengan sedikit ujian, Islamnya akan runtuh dan imannya roboh. Sedikit sakit, sudah tidak shalat atau kalaupun shalat sudah tidak khusyuk.
Pohon yang sempurna, kalau dapat dipahami, akan membantu kita memahami Islam secara lengkap. Pohon yang lengkap yang rindang, yang sempurna, terdiri dari :
- Akar tunjang
- Batang
- Dahan-dahan besar, dahan-dahan kecil
- Ranting-rantingnya banyak
- Daunnya banyak
- Bunganya banyak
- Buahnya banyak
- Ada isi buah dan ada rasa isi buah
Rasa isi buah adalah perkara hakikat, perkara maknawi dan abstrak. Itulah rasa hati. Allah menganugerahkan rasa hati itu kepada hamba-hambaNya yang terpilih yang telah dicabut sifat-sifat mazmumah dari hatinya sehingga hati orang itu merasa tenang dan bahagia dalam hatinya, sekalipun menderita, miskin atau sakit. Terlebih lagi bila dia kaya, itulah yang dikatakan syurga dunia, syurga yang disegerakan. Apabila orang itu meninggal maka ruhnya akan diarak oleh kekasih-kekasih Allah dan para malaikat. Dia redha kepada Allah dan Allah redha kepadanya. Oleh karena itu, ada ulama yang mengatakan bahwa orang yang jiwanya tidak selamat di dunia, orang itu tidak akan mendapatkan kebahagiaan di Akhirat.
Begitulah ajaran Islam, ada yang berkedudukan seperti akar, batang, daun, dahan, bunga, buah, isi buah dan rasa isi buah. Persoalan yang berkaitan dengan iman seperti mempelajari, memahami dan meyakini keenam rukun Iman adalah persoalan aqidah, Itulah akar ajaran Islam.
Rukun Islam yang terpenting adalah shalat. Begitu pentingnya shalat sehingga Rasulullah SAW bersabda bahwa barang siapa meninggalkan shalat, maka nyatalah orang itu kafir. Jika Islam diibaratkan sebagai pohon, maka shalat itulah yang menjadi batang. Sedangkan Rukun Islam yang lain jika diibaratkan dengan pohon tadi adalah dahan-dahan besar. Sedangkan perkara-perkara fardhu kifayah yang banyak kita temui dalam ajaran Islam, itulah dia dahan-dahan kecil. Perkara fardlu kifayah ini sebenarnya banyak sekali tetapi mungkin yang kita ketahui selama ini hanya dua karena dua hal itu saja yang diajarkan kepada umat yaitu shalat fardhu berjamaah dan mengurus jenazah. Kita tidak diberi pemahaman yang cukup bahwa menegakkan pendidikan secara Islam itu adalah fardhu kifayah, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar itu fardhu kifayah, memperjuangkan Islam itu juga fardhu kifayah. Begitu juga kita tidak diberi pemahaman bahwa menegakkan ekonomi secara Islam itu fardhu kifayah dan pada akhirnya nanti, menegakkan negara Islam itu juga termasuk fardhu kifayah. Begitulah berbagai perkara fardhu kifayah, dari yang kecil sampai ke tingkat internasional. Dahan-dahan kecil tentu lebih banyak daripada dahan-dahan besar.
Kemudian perkara-perkara yang sunat, baik yang sunat muakkad maupun yang ghairu muakkad. Juga perkar-perkara mubah yang dapat kita jadikan ibadah dengan memenuhi lima syarat ibadah. Itulah ranting-ranting, daun-daun dan bunga-bunganya. Ibadah furu’ (cabang) ini sudah tentu lebih banyak lagi dari ibadah pokok. Kemudian, apa yang menjadi buahnya? Jika Islam diibaratkan sebuah pohon, maka yang menjadi buahnya adalah akhlak yang baik, budi pekerti yang baik atau khusnul khuluq.
Jadi sekarang kita dapat memahami bahwa ibadah fardhu ain, fardhu kifayah, sunat muakkad, ghairu muakkad dan hal-hal yang mubah itu bertujuan untuk menghasilkan buah-buah akhlak yang baik. Buah dari iman dan Islam adalah akhlak. Buah ibadah adalah akhlak. Jadi kita menjalankan ibadah dengan tujuan melahirkan buah akhlak untuk dijadikan pakaian diri kita karena akhlak itulah nilai diri manusia. Oleh karena itu, jika seorang itu ibadahnya banyak tapi tidak dapat melahirkan buah akhlak, maka ibadahnya tidak memiliki nilai atau rendah nilainya di sisi Allah. Tetapi jika seseorang itu beribadah, walaupun hanya yang fardhu, tapi ibadah itu dapat melahirkan buah akhlak, maka itu lebih baik daripada ibadah yang banyak tapi tidak dapat melahirkan buah akhlak. Jika diibaratkan seperti orang yang menanam pohon rambutan tapi tidak berbuah, maka ia senasib dengan orang yang tidak menanam pohon rambutan. Tapi mungkin masih ada sedikit manfaatnya walaupun pohon itu tidak berbuah, yaitu dahannya dan rantingnya dapat dijadikan kayu bakar.

Oleh karena itu, orang yang menegakkan amal ibadah tapi tidak berakhlak, sekalipun banyak ibadahnya, tidak dinilai oleh Allah SWT. Ada dua cerita dalam Hadist Rasulullah SAW :
Pernah Rasulullah SAW berkumpul bersama dengan para sahabat. Kemudian salah seorang sahabat berkata bahwa dia memiliki seorang tetangga wanita yang sering berpuasa siang hari dan di malam harinya shalat tahajjud. Tetapi Rasulullah mengatakan bahwa wanita itu adalah ahli Neraka. Sahabat bertanya, mengapa demikian. Jawab Baginda Rasulullah SAW, “Wanita itu selalu menyakiti tetangga dengan lidahnya, tidak ada kebaikan lagi baginya dan dia adalah ahli Neraka.” Mengapa? Sebab ibadah tak berbuah. Jadi orang yang menyakiti orang lain, ibadahnya tidak melahirkan akhlak.
Sementara itu, satu hari Rasulullah SAW bercerita kepada para sahabat, “Tidak lama lagi akan datang seseorang di majelis ini, dia ahli Syurga.” Kalau Rasulullah SAW mengatakan seseorang itu ahli Syurga, maka pastilah orang itu ahli Syurga. Jadi para sahabat menunggu siapa yang akan datang. Tidak lama kemudian datanglah seseorang. Sebagian sahabat belum mengenalnya. Setelah kuliah, ada seorang sahabat ada yang ingin tahu, apakah yang menjadi amalannya sehingga Rasulullah menyebutnya sebagai dia ahli Syurga. Sahabat itu mengikutinya sampai ke rumah dan meminta izin untuk bermalam. Sahabat itu ingin melihat apa amalannya seingga Rasulullah menyebutnya ahli Syurga. Setelah diamati sepanjang malam, tidak terlihat ada yang istimewa. Shalat sunat tak dilakukan, tahajud pun tidak. Setelah subuh, sahabat itu bertanya kepadanya, “Waktu kuliah kemarin, sebelum Saudara datang, Rasulullah berkata bahwa akan datang seorang ahli Syurga. Oleh karena itu, saya ingin bertanya, apa yang menjadi amalan Saudara sehingga dikatakan ahli Syurga?” Jawab orang itu, “Seumur hidup saya, saya tidak ada hasad dengki dengan orang lain, bahkan niat untuk berhasad dengki pun tidak ada.”
Jadi inilah ibadah yang walaupun sedikit tetapi berbuah. Orang yang tidak ada hasad dengki adalah orang yang tinggi akhlaknya . Rupanya sahabat itu walaupun ibadahnya sederhana, tapi ibadahnya berbuah. Sedangkan wanita tadi walaupun ibadahnya banyak tapi tidak berbuah, tidak berakhlak, maka ia menjadi penghuni Neraka.
Jadi akhlak adalah buah ibadah, kalau kita beribadah tetapi tidak mendapatkan akhlak yang mulia maka ibadah kita tidak memiliki nilai di sisi Allah. Meskipun begitu, jangan kemudian kita berpendapat lebih baik tidak beribadah sama sekali yang penting berakhlak. Sahabat yang kita ceritakan tadi, ibadah yang asas tidak ditinggalkan. Karena itu, jangan sampai kita meninggalkan ibadah asas. Kalau kita semua dapat mengerjakan ibadah yang asas tapi yang sunat tak dapat dikerjakan, tidak mengapa, asal berakhlak. Itu lebih besar nilainya daripada kuat beribadah tetapi tidak berakhlak. Ibadah asas harus dibuat. Jangan sampai keliru, tidak mendirikan shalat, tidak melaksanakan puasa, yang penting berakhlak. Ini tidak benar.
Akhlak terbagi dua :
- Akhlak kepada Allah
- Akhlak kepada sesama manusia
Akhlak kepada Allah :
- Ketika Allah menguji kita dengan sakit dan miskin, kita bersabar. Jika seseorang itu diuji oleh Allah tapi dia tidak sabar, sebenarnya dia tidak berakhlak dengan Allah.
- Jika Allah menetapkan suatu ketentuan kepada kita, kita redha. Sebagai contoh, kita bekerja mencari rezeki tapi ternyata rezeki yang kita peroleh hanya sedikit. Atau kita sudah bersungguh-sungguh belajar tetapi tidak lulus. Ingin kaya, tapi Allah takdirkan miskin. Kita harus redha menerima ketentuan dari Allah. Itulah akhlak. Jika seseorang tidak redha dengan ketentuan Allah, artinya orang itu tidak berakhlak dengan Allah.
- Merasa takut, gentar, cinta, malu, merasa selalu diawasi oleh Alla. Itulah akhlak kepada Allah. Jika seseorang itu senantiasa merasakan Allah mengawasi dirinya, ia akan merasa malu kepada Allah dan merasa malu untuk melakukan kejahatan.
Akhlak kita kepada sesama manusia :
- Lemah lembut
- Pemurah
- Kasih sayang
- Tidak ada hasad dengki dengan orang lain
- Tidak pendendam
- Tidak pemarah
Itulah sebagian dari akhlak kita kepada Allah dan akhlak kepada sesama manusia. Kita beribadah untuk melahirkan akhlak. Jadi akhlak dalam ajaran Islam, kalau diibaratkan sebatang pohon maka akhlak adalah buah.

[...] Selanjutnya >> Islam Laksana Sebatang Pohon (II) >> [...]