Islam Laksana Sebatang Pohon (III)
December 4, 2007 by easternearth
Seseorang yang hanya dapat menegakkan aqidah dalam dirinya tapi ia tidak beramal dan tidak melaksanakan perintah Allah, jika dibaratkan sebuah pohon adalah pohon yang sekedar memiliki akar. Pohon yang semacam itu belum dapat memberikan manfaat kepada kita. Ada orang yang beraqidah dan mendirikan shalat saja. Sedangkan puasa dan zakat tidak dilaksanakan, fardhu kifayah juga tidak ditegakkan. Maka, jika dibaratkan dengan sebuah pohon, pohon itu hanya memiliki akar dan batang, masih belum sempurna. Selanjutnya ada yang rukun Islamnya beres tapi fardhu kifayah tidak ditegakkan, ibadah sunat juga tidak dikerjakan dan seterusnya. Maka, orang yang seperti itu ibarat pohon yang belum sempurna. Kemudian ada sebagian orang dapat melaksanakan perkara sunat walaupun tak penuh, begitu juga hal-hal yang mubah sedikit banyak dapat dijadikan ibadah. Maka orang yang seperti itu ibarat pohon yang sudah ada sedikit daun, sedikit bunga, tapi belum berbuah. Barulah jika seseorang itu sudah memiliki akhlak yang baik, jika diibaratkan sebuah pohon, maka pohon itu sudah menghasilkan buah. Pohon itu sudah sempurna, sudah lengkap, hanya saja belum rimbun dan belum subur.
Jika mayoritas umat Islam telah dapat menegakkan Islam seperti gambaran yang terakhir tadi, tentu umat Islam sudah memilki kekuatan. Persatuan, perpaduan, kemajuan dan peradaban sudah dibangun, syiar Islam sudah terlihat di mana-mana. Terlebih lagi jika pohon itu sudah sempurna, tumbuh rindang dan rimbun. Jika kita melihatnya, terasa indah dan menarik hati. Sejuk hati kita dan semua orang merasa senang. Siapa saja yang berteduh di bawahnya, mendapat perlindungan dari teriknya matahari. Pohon itu dapat memberi manfaat kepada semua orang yang mendekatinya. Semua orang ingin mendatangiya dan ingin berteduh di bawahnya. Bukan hanya manusia, bahkan burung-burung pun menjadikannya tempat bermain.
Jika Islam laksana pohon yang sempurna itu dapat ditegakkan oleh mayoritas umat Islam, barulah umat Islam ini gagah, bersatu padu dan menjadi payung pelindung. Bukan saja memayungi umat Islam, bahkan yang bukan Islam pun layak duduk di bawah payung umat Islam. Di waktu itu Allah akan memberikan kekuasaan di muka bumi ini kepada umat Islam sebagaimana zaman kegemilangannya dulu. Tidak perlu banyak berdakwah, manusia sudah melihat gambaran Islam yang begitu cantik, bersatu padu, berkasih sayang, bersih dari kejahatan. Maka dengan sendirinya orang bukan Islam akan berbondong-bondong masuk Islam, sehingga kita akan merasakan masyarakat yang cantik dan indah.
Tetapi jika kita melihat kepada diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, negara kita dan orang-orang Islam di seluruh dunia saat ini, sebagian dari kita hanya mengamalkan aqidah saja, sebagian beraqidah dan shalat saja, sebagian yang lain, selain beraqidah dan shalat, hanya menegakkan rukun Islam yang 5 saja, sedangan fardhu kifayah tidak dijalankan. Yang paling baik yang dapat kita temui, ada sebagian umat Islam yang beraqidah, menegakkan rukun Islam yang 5, menjalankan 2-3 perkara fardhu kifayah, sedikit-sedikit dapat mengerjakan ibadah sunat dan dapat menjadikan 2-3 perkara yang mubah menjadi ibadah. Tapi mereka adalah golongan yang minoritas. Kadang-kadang itupun sudah menggemparkan dan menghebohkan karena dianggap ekstrem, berbuat melebihi Rasulullah SAW. Padahal semua itu masih belum sempurna tapi karena banyak orang yang tidak melaksanakannya, maka orang-orang terkejut, seolah-olah mereka sudah melampaui batas.
Hal itu terjadi karena selama ini kita mengamalkan Islam tidak seperti pohon yang rindang, tidak selengkap pohon yang sempurna. Karena itulah kita tidak mendapatkan rasa aman dengan Islam, tidak dapat merasakan bahwa Islam itu cantik dan indah, tidak dapat bersatu padu dengan Islam, tidak dapat berkasih sayang dengan Islam, tidak dapat menegakkan ukhuwah Islamiah melalui ajaran Islam. Masyarakat kita penuh dengan kejahatan, tidak berbeda dengan yang bukan Islam. Akhirnya umat Islam terhina di mana-mana. Allah telah memberitahu kita:
“Apakah kamu beriman kepada sebahagian isi Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain (Al Qur’an dan sunnah)? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS Al Baqarah 85)
Kalau sifat ini terus dipertahanan sampai masuk ke liang kubur, maka di Akhirat nanti Allah akan mencampakkan kita ke dalam Neraka yang maha dahsyat azabnya, yang maha hebat siksanya. Allah tidak lalai terhadap apa yang kita perbuat. Sebagaimana firman Allah yang artinya :
“Siapa yang membuat kebaikan walaupun sebesar debu akan dilihat dan barang siapa yang membuat kejahatan walaupun sebesar debu akan dilihat.” (QS Az Zalzalah 7-
Kalau kita mengambil ajaran Islam itu setengah-setengah, maka kita akan terhina di dunia dan di Akhirat mendapat mendapat balasan neraka. Itulah jaminan dari Allah. Allah Maha Suci dari salah dan dosa. Kata-kata Allah adalah Maha Benar. Jika kita tidak melaksanakan dan memperjuangkan Islam itu secara utuh dan menyeluruh maka kita akan terhina dimana-mana dan kalah dimana-mana.
Kita ambil satu contoh kehinaan di dunia. Di bidang pendidikan, berapa banyak umat Islam yang telah mendidik anak-anaknya secara Islam? Padahal yang sepatutnya diutamakan menerima pendidikan Islam adalah anak-anak. Dalam hadist disebutkan:
“Hendaklah kamu perintahkan anak-anak kamu shalat ketika telah sampai berumur tujuh tahun. Ketika sudah sampai sepuluh tahun tidak mau shalat, boleh dipukul (yang tidak mencacatkan).” (Riwayat Ahmad ibn Hambal, Abu Daud dan At-Tirmidzi)
Shalat adalah tiang agama. Shalat adalah perkara yang paling penting setelah rukun Iman. Artinya kalau kita ingin mendidik anak-anak kita sejak kecil, apakah sistem pendidikan ini sudah kita jalankan? Apakah kita sudah mengenalkan shalat sejak mereka masih kecil, sudah mengajarkan bersuci, sudah mengenalkan jenis-jenis air, sudah mengenalkan najis, sudah mengajarkan mana yang halal mana yang haram, sudah mulai mengajarkan hukum-hukum walau untuk hal-hal yang sunat sekalipun?
Bahkan anak-anak mubaligh dan ustadz pun belum tentu mendapatkan didikan ini sejak kecil. Tapi ketika mereka tak lulus ujian, mereka kita hukum. Itu sudah terbalik. Dan apa akibat kita lalai mendidik anak-anak kita dengan sistem pendidikan Islam? Anak-anak kita bukan saja tidak mengenal Allah, bahkan ayah ibunya pun tidak dihormati. Kalau pergi dan pulang sekolah tidak mengucapkan salam, tidak mendoakan ayah ibunya. Setelah besar, ibu jadi budak, anak jadi tuan. Inilah salah satu tanda-tanda kiamat. Anak-anak yang tidak dididik secara Islam, dengan sedikit ijazah yang diperolehnya kemudian mendapat pekerjaan, sesampainya di rumah mereka berkacak pinggang, berani memberi perintah ini dan itu kepada ibu, malas menyajikan makan minum kepada ibu dan ayah, lebih senang melayani bos di tempat kerja daripada melayani ayah ibu. Itulah satu kehinaan di dunia.
Begitu juga kita tidak menganggap membangun klinik dan rumah sakit secara Islam itu fardhu kifayah. Sistemnya secara sistem Islam. Kalau isteri bersalin ditangani dokter laki-laki, tentu itu satu kehinaan. Tetapi kita tidak merasa terhina karena hati telah hitam. Hati ditempa oleh makanan dan minuman. Bila makanan kita haram dan syubhat, maka itu akan menghitamkan hati. Bila hati hitam, hati keras, walaupun sudah melihat kebenaran tapi terasa berat untuk menegakkan shalat, berat berpuasa, malas berjuang. Sebaliknya dengan maksiat hati merasa senang.
Pada hari ini kita dapat menyaksikan banyak umat Islam yang memperjuangkan Islam hanya mengandalkan kekuatan lahiriah. Padahal Allah memenangkan umat Islam berdasarkan taqwa dan sebaliknya, Allah memenangkan orang kafir dengan quwwah/ kekuatan lahiriah. Umat Islam saat ini, kekuatan lahiriyah tidak ada, taqwa pun tidak ada. Karena itulah kita terhina di mana-mana. Bukan saja terhina di dunia bahkan juga akan terhina di Akhirat. Hanya jika kita bertaqwa maka barulah kita akan mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat. Seluruh aspek dalam Islam harus diperjuangkan untuk keselamatan kita. Oleh karena itu, kita harus mempelajari, mengamalkan dan memperjuangkan ajaran Islam secara utuh dan menyeluruh.

[...] Selanjutnya >> Islam Laksana Sebatang Pohon (III) >> [...]