Tingkatan Nafsu (I)
December 10, 2007 by easternearth
Allah berfirman di dalam Al Quran:
“Beruntunglah orang yang membersihkan hatinya dan rugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy Syams 9-10)
Islam menganggap nafsu itu sebagai musuh manusia. Allah SWT telah menegaskan:
“Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak kepada kejahatan.” (QS Yusuf 53)
Dalam ayat ini digunakan tiga bentuk ketegasan, yakni in–taukik, lam–taukik dan isim fiil mubalaghah. Gaya bahasa ini menunjukkan bentuk penekanan yang sungguh-sungguh bahwa nafsu akan membawa kepada kejahatan.
Nafsu adalah musuh di dalam diri manusia. Sedangkan nafsu adalah sebagian dari diri manusia. Nafsu adalah jismul latif (tubuh halus yang tidak dapat dilihat). Kejahatan nafsu harus dibuang dari diri manusia. Jika tidak dibuang maka nafsu akan menjadi musuh. Tapi walaupun kita ingin membuangnya, nafsu tetap merupakan sebagian daripada diri. Oleh karena itu, melawan hawa nafsu adalah hal yang sangat sulit.
Nafsu adalah jalan raya (highway) bagi syaitan. Ini diterangkan oleh hadis Rasulullah SAW yang maksudnya :
“Sesungguhnya syaitan itu bergerak mengikuti aliran darah, maka persempitlah jalan syaitan dengan lapar dan dahaga.” (Riwayat Ahmad)
Ini menunjukkan syaitan dapat dilawan dengan melawan hawa nafsu secara mengurangi makan atau berpuasa. Jika nafsu tidak terdidik, jalan syaitan adalah besar. Sedangkan syaitan itu juga adalah musuh. Firman Allah yang maksudnya :
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata.” (QS Al Baqarah 16
Ayat yang menerangkan tentang nafsu sebagai musuh memiliki tiga gaya bahasa penegasan. Sedangkan ayat yang menerangkan tentang syaitan hanya memiliki satu gaya bahasa penegasan. Hal ini menunjukkan bahwa nafsu lebih jahat daripada syaitan. Syaitan akan mendapat jalan atau peluang yang sangat besar untuk merusak manusia jika nafsu tidak terdidik.
Menghalau atau mengalahkan syaitan tidak bisa dilakukan dengan dijampi atau dibacakan ayat-ayat Quran. Cara melawan syaitan adalah dengan mendidik hawa nafsu. Jika nafsu terdidik niscaya syaitan akan kesulitan untuk mempengaruhi diri. Jika nafsu terdidik, jalan syaitan akan terputus. Yang bisa dilawan dengan dibacakan dengan ayat-ayat Quran adalah apabila syaitan merusak jasad lahir manusia. Jika hal ini terjadi, syaitan dapat dilawan dengan dibacakan Ayat Kursi, Surat An Naas dan lain-lain. Demikianlah menurut dalil atau nashnya. Tetapi jika syaitan menggoda dan merusak hati, bacaan-bacaan itu tidak dapat digunakan lagi. Jika hati rusak, rusaklah seluruh anggota badan. Oleh karena itu, kita tidak perlu merisaukan tentang syaitan tetapi didiklah nafsu dan bermujahadahlah. Jika nafsu tidak terdidik maka menjadi mudah bagi syaitan untuk mempengaruhi kita. Oleh karena itu perangilah nafsu, niscaya serangan syaitan akan tertahan.
Nafsu diperlukan untuk manusia. Namun berhati-hatilah. Karena nafsu, manusia boleh jadi akan kecewa, celaka dan masuk Neraka. Tapi nafsu juga bisa menjadi alat untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia sebelum sampai ke Akhirat.
Ketika Allah menciptakan akal, Allah bertanya kepada akal, “Siapakah kamu, siapakah Aku ?” Jawab akal, “Saya hamba, Engkau Tuhan.” Kemudian Allah memerintahkankan akal agar maju ke depan dan mundur ke belakang. Akal mematuhi perintah Allah. Hal ini menunjukkan bahwa akal begitu taat kepada Allah.
Kemudian Allah menciptakan nafsu. Ketika Allah bertanya kepada nafsu, “Hai nafsu, siapa engkau, siapa Aku ?” Nafsu menjawab dengan sikap membantah, “Engkau Engkau, aku aku.” Karena itulah Allah murka kepada dan kemudian Allah memberikan didikan kepada nafsu agar insaf. Allah memasukkan nafsu ke Neraka selama 100 tahun, ia dipukul dan dibakar hingga hangus menjadi arang. Kemudian setelah nafsu dikeluarkan dari neraka, Allah bertanya lagi kepadanya, “Siapa engkau, siapa Aku?” Setelah semua itu, barulah nafsu mengenal Tuhannya, ia menjawab, “Engkau Tuhan, aku hamba”
Ketika Allah menciptakan Nabi Adam as, Allah memasukkan akal dan nafsu ke dalam dirinya. Ketika Nabi Adam datang ke bumi, keturunan manusia bertambah banyak. Maka peranan nafsu dan akal tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kemungkaran yang terjadi di atas muka bumi ini adalah dari nafsu, bukan dari akal.
Karena akal dan nafsu ada dalam diri manusia, maka terjadilah pertentangan antara satu sama lain. Peperangan nafsu dan akal tidak pernah ada henti-hentinya. Kadang-kadang nafsu yang menang, kadang-kadang akal menang. Buktinya, jika kita berhadapan dengan perbuatan yang baik, maka nafsu akan menolaknya dan mengajak kepada kejahatan sedangkan akal mengajak kepada kebaikan. Kalau kita mengikuti nafsu, artinya kita kalah. Sebaliknya, jika kita mengikuti akal maka kita menang.
Namun bagaimanapun nafsu tetap diperlukan oleh manusia. Bila nafsu musnah, manusia juga akan musnah. Sebagai contoh adalah nafsu makan. Nafsu makan tidak akan hilang karena merupakan fitrah alami manusia. Jika nafsu makan tidak ada, manusia akan mati. Begitu juga dengan nafsu terhadap lawan jenis. Jika nafsu ini tidak ada, maka manusia tidak akan berketurunan. Pernah seorang sahabat datang kepada Rasulullah dan memberitahukan bahwa ia ingin membunuh nafsunya agar ia dapat bersungguh-sungguh berjuang. Tetapi Rasulullah melarang karena Rasulullah sendiri juga berumah tangga dan beliau menyukai jika umatnya mempunyai keturunan yang banyak. Pernah juga ada seorang sahabat yang mengatakan kepada Rasulullah bahwa ia ingin berpuasa terus menerus agar dapat lebih berbakti kepada Allah. Rasulullah juga melarangnya karena Baginda sendiri juga berpuasa dan jberbuka. Rasulullah juga tetap bermasyarakat dan berjuang untuk menegakkan kehidupan di dunia dan dan Akhirat. Jadi, Rasulullah memberi jalan tengah. Nafsu ini tetap diperlukan untuk manusia. Akan tetapi, jangan sampai salah langkah sehingga membawa kita ke Neraka. Rasulullah bersabda tentang nafsu ini,
“Ada dua lubang yang dapat menyebabkan seseorang masuk ke Neraka, yaitu lubang faraj dan lubang mulut.” (Riwayat Tirmidzi)
Nafsu juga dapat kita jadikan kuda untuk ke Syurga. Sebagian orang jika mendengar kata nafsu, hanya terbayang hal-hal yang jahat saja. Sedangkan nafsu itu adakalanya jahat, adakalanya baik. Nafsu akan menjadi baik jika dilatih. Imam Al Ghazali mengibaratkan nafsu itu sebagai anjing, jika dilatih akan menjadi baik.

Memang jarang kita lihat nafsu yang membawa kebaikan. Nafsu yang membawa kebaikan memang hanya hak para Nabi, para Rasul, para wali Allah dan orang-orang bertaqwa. Moga-moga Allah ubah hati kita agar nafsu kita tidak lagi mengajak kita kepada kejahatan.
bagus
Memang nafsu itu sering mengajak melakukan kejahatan . Sebab itulah melawan hawa nafsu itu adalah salah satu JIHAD. Oleh itu, sama-samalah kita mendidik hawa nafsu kita sebagaimana yang ditunjukkan oleh murobbi kita, Rasullah S.A.W ….
iya bener, nafsu memang buat aku menderita. Aku sekarang 24 tahun, kerjaan tiap hari bertengkar aja antara nafsu dan akal. Tapi aku baru tahu loh, ada cerita soal Allah yang memerintah akal untuk maju dan nafsu untuk maju. Itu benar tidak sih?
Yang saya tahu yang dihukum 100 tahun di neraka itu iblis. apa iblis ini nafsu ya…
Tapi aku sungguh menderita karena nafsu.. sering banget aku akalin ni nafsu. Masa nafsuku menghimbau untuk menikah, padahal menurut pandangan akal, saya belum siap. wanitanya saja tidak ada, pekerjaan tidak ada pula. belum soal pembiayaan rumah tangga. Jadi terbayang jika saya ikuti nafsu untuk menikah. bakal kacau diriku.
Kalo saudara-saudara ada yang mengerti soal mendidik nafsu atau ada pengalaman, share donk.