Sejarah telah membuktikan kepada kita bagaimana orang-orang kaya di zaman Rasulullah karena mereka takut kepada Allah, takut kepada neraka Allah dan cinta kepada syurga Allah, mereka sanggup menjadi bank kepada masyarakat Islam. Artinya orang-orang kaya di zaman itu sanggup mengorbankan harta dan uang mereka untuk memajukan masyarakat Islam. Sebagai contoh, Sayidina Abu Bakar, Sayidina Umar, Sayidina Abdurrahman bin Auf, Sayidina Utsman, mereka semua telah mengorbankan harta kekayaan mereka untuk membangun masyarakat Islam, membantu membangun berbagai aspek kehidupan, mengatasi kemiskinan dan penindasan kaum Yahudi. Akhirnya masyarakat Islam ketika itu dapat membangun dan mencapai kemajan tanpa bersandar kepada orang kafir. Apakah Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar, Sayidina Abdurrahman bin Auf, Sayidina Utsman berkorban karena mereka maju dalam pembangunan atau karena banyak menguasi ilmu pengetahuan dan sebagainya. Jawabannya, tidak! Mereka sanggup berkorban karena mereka takut kepada Allah, takut dengan neraka Allah dan cinta Syurga Allah. Bukankah sebelum itu mereka adalah orang-orang kaya tetapi mereka tidak berkorban karena mereka adalah orang yang bakhil dan tamak ketika itu. Mereka menjadi orang yang begitu pemurah hanya setelah mereka menerima Islam dan Rasulullah.
Sejarah juga telah membuktikan bagaimana orang-orang yang susah dan menderita di zaman Rasulullah dapat berlaku sabar dan redha dengan kesusahan dan penderitaan mereka setelah mereka menerima ajaran Islam dan setelah mereka takut dengan Allah, takut dengan neraka Allah dan cinta kepada Syurga Allah. Mereka tidak pernah mengeluh dengan kesusahan itu. Mereka tidak pernah merasa kecewa dengan penderitaan hingga mendapat pujian dari Allah SWT di dalam Al Qur’an:
“Orang yang tidak tahu menyangka mereka itu adalah orang-orang yang kaya karena mereka memelihara diri dari meminta-minta.” (QS Al Baqarah 273)
Posted in Renungan Hati | No Comments »
Mencari kebahagiaan adalah fitrah murni setiap manusia. Tanpa melihat apakah lelaki atau perempuan, tua atau muda, orang kaya atau orang miskin, orang besar atau orang kecil, semua menginginkan kebahagiaan. Segala tindak tanduk manusia dapat kita lihat tidak lain dan tidak bukan hanyalah demi mencari kebahagiaan.
Penghujung tahun 2007. Bencana yang melanda negeri ini masih belum terlihat tanda-tanda mereda. Setelah tsunami, gempa bumi, gunung meletus, banjir, badai,
Sesungguhnya Allah mengatur alam ini dengan suatu pengaturan yang tersusun rapi. Penciptaan alam ini ada awalnya dan ada akhirnya semua itu berjalan dengan cara dan sesuai waktu yang telah ditentukan-Nya. Kita sebagai makhluk hendaknya menyadari tentang hakikat ini dengan merenungkan hikmah dan pengajaran di sebaliknya agar dapat bertindak tepat sesuai dengan kehendak Allah.
Islam diwahyukan oleh Allah kepada Rasulullah SAW secara utuh. Rasulullah menyampaikannya kepada kita juga secara utuh. Allah berfirman:
Tidak ada seorangpun yang menolak kenyataan bahwa kehidupan kita di dunia ini hanya untuk sementara waktu saja. Di akhir zaman saat ini, paling lama manusia dapat hidup selama 150 tahun. Setelah itu semua orang akan mati dan setelah mati pergi ke akhirat. Banyak orang mempercayai akan hal ini, hanya sedikit sekali yang tidak percaya. Umat Islam memang mempercayai bahwa akhirat itu ada.

Sultan Muhammad Al Fateh (محمد الفاتح) atau yang disebut juga Mehmed II The Conqueror dilahirkan pada tanggal 29 Maret 1432. Saat kelahirannya pun sudah terdapat isyarat bahwa dia nantinya akan menjadi orang besar yang membuat sejarah besar. Ketika berita kelahirannya disampaikan, ayahnya, Sultan Murad II sedang membaca Al Quran tepat pada Surat Al Fath ayat 1:
Allah SWT berfirman di dalam Al Quran: